Skip to content

KAJIAN KELAYAKAN TPS3R BINA WARGA

TPS3R BINA WARGA

KELURAHAN BULUROKENG KECAMATAN BIRINGKANAYA

KOTA MAKASSAR

KONDISI GEOGRAFIS

Kelurahan Bulurokeng terletak di bagian utara kota Makassar dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Maros. Memiliki luas wilayah 4,31 km² dan terdiri dari 63 RT dan 14 RW 

Wilayah Bulurokeng di dominasi dataran rendah dan perkembangan pemukiman warga sebagai bagian area perluasan perkotaan makassar.

TPS3R berada di wilayah administratif Kecamatan Biringkanaya Kelurahan Bulurokeng, Kota Makassar tepatnya di jalan Pahlawan area Pekuburan Jera Bonto.

Lokasi TPS3R berada di dataran lebih tinggi dari area pemukiman dengan titik koordinat lat -5.07818◦ long 119.494242◦

TPS3R dirancang untuk memastikan operational yang efektif, tidak mengganggu pemukiman, dan sesuai tata ruang wilayah. 

Berikut Adalah kondisi dan syarat Lokasi TPS3R :

  • Jarak aman berada di luar radius bau yang mengganggu, dengan jarak aman minimal dari pemukiman terdekat dan tidak menempel langsung dengan rumah warga
  • Aksesibilitas terletak di Lokasi yang mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut sampah dan dekat dengan sumber sampah.

SARANA DAN PRASARANA

Prasarana TPS3R meliputi  : 

  • Area Bangunan utama yang terdiri dari Bangunan pemilahan, Gudang
  • Ruang Pengolahan organik meliputi area pengomposan/Teba
  • Unit instalasi pirolisis mengubah sampah plastik menjadi energi bahan bakar minyak
  • Zona Penyangga meliputi area penghijauan di sekitar Lokasi
  • Kantor/Ruang pengelola untuk operasional dan administrasi
  • Lantai kedap air

     Sarana TPS3R meliputi :

  • Kendaraan Pengumpul dan pengangkut berupa Motor 3 roda / Viar untuk menjemput sampah dari rumah warga
  • Gerobak Dorong untuk mengangkat dan mengangkut sampah yang telah dipilah
  • Alat Pemilah berupa sekop.garpu dan wadah untuk memisahkan jenis sampah
  • Timbangan
  • Karung sampah
  • Alat Pelindung Diri berupa Sarung tangan, Sepatu Booth, masker, dan penutup kepala

TIMBULAN DAN KOMPOSISI SAMPAH

Berdasarkan analisis data persampahan di wilayah pemukiman Makassar, rata-rata timbulan sampah yang dihasilkan adalah sekitar 1,8 kg per rumah tangga setiap harinya. Data ini menunjukkan volume yang signifikan jika diakumulasikan dalam skala kelurahan. 

 Komposisi sampah di Kelurahan Bulurokeng didominasi oleh: 

  1. Sampah Organik (50%-58%): Terdiri dari sisa makanan, limbah sayuran, dan sampah taman. Tingginya persentase ini memberikan peluang besar untuk pengolahan berbasis biologis. 
  2. Sampah Anorganik : Didominasi oleh plastik (10%-20% ), kertas (5%-8% ) , logam, dan kaca yang memiliki nilai ekonomi jika dipilah dengan benar. 
  3. Residu yang tidak dapat di daur ulang sekitar 20%-30% dari sampah yang masuk dan di dominasi sampah popok sekitar 13%-17% dari total residu

SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH SAAT INI 

Saat ini, sistem pengelolaan sampah di Kelurahan Bulurokeng masih sangat bergantung pada metode konvensional “kumpul-angkut-buang”. Sampah dari rumah tangga dikumpulkan oleh petugas kebersihan menggunakan gerobak atau motor sampah, kemudian dibawa ke titik kumpul sementara sebelum diangkut oleh truk Dinas Lingkungan Hidup menuju TPA Tamangapa Antang. Hal ini berlangsung sebelum TPS3R Bina Warga Kelurahan Bulurokeng Kecamatan Biringkanaya beroperasi , saat ini TPS3R Bina Warga sudah mengelola sampah di 5 Cluster di perumahan Villa Mutiara : Cluster Biru , Cluster Jelita, Cluster Lestari , Cluster Indah , Cluster Kirana dengan Total jumlah Rumah tangga 1.000 KK di tambah lagi Usaha Mie Gacoan dengan rata rata pengambilan sampah setiap harinya sekitar 2-3 Ton perhari dengan asumsi Residu sebesar 20% -30% dan itulah yang di bawa ke TPA Tamangapa Antang , sejak beroperasi 1 Januari 2026 sampai saat ini jumlah sampah masuk 41,58 Ton dan terkelola sekitar 28,8 Ton sehingga sisa Residu tersisa 12,6 Ton yang selanjutnya akan diangkut ke TPA antang. 

PERMASALAHAN YANG DIHADAPI 

Beberapa masalah yang dihadapi ini meliputi: 

  • Rendahnya Pemilahan di Sumber : Masyarakat umumnya masih mencampur sampah organik dan anorganik, yang menurunkan kualitas material daur ulang, Kapasitas dan beban Kerja Pemilah bertambah
  • Sampah Residu tercecer dan berbau akibat keterbatasan sarana Kontainer.  Saat ini dibutuhkan kontainer sampah lengkap dengan penutup untuk menghindari sampah tercecer dan menimbulkan bau tidak sedap selama proses pengangkutan. 
  • Warga sekitar TPS3R seringkali khawatir akan munculnya bau menyengat atau kerumunana lalat ,terutama jika penanganan sampah organik tidak segera di tangani.
  • Belum ada data valid dari Nasabah Sampah, sehingga butuh pendataan lagi.
  • Kekurangan Personil/Driver dan Helper mengakibatkan pengangkutan sampah warga tidak maksimal
  • Bahan bakar armada motor sampah  dan perawatan mesin belum berimbang dengan pendapatan dari penjualan sampah yang terpilah.
  • Butuh pelatihan Sumber Daya Manusia terutama Teknis mengolah sampah
  • Petugas TPS3R belum memahami Tugas dan Tanggung jawabnya 
  • Harga plastik berubah-ubah dipasaran, jadi terkadang sampah yang sudah siap jual ditahan sementara agar bisa dapat hasil maksimal
  • Kondisi bangunan yang sudah lapuk dan atap sudah bocor hingga tidak semua ruangan di fungsikan.Terkadang hasil olahan berupa Kardus dan kertas basah terkena air hujan
  • Penampungan air masih dipinjam dari warga
  • Belum ada Pagar atau pembatas jalur antara pemakaman dengan Lokasi dan jalan masuk ke TPS3R

ANALISIS KEBUTUHAN TPS3R

Agar TPS3R yang baru di bentuk di Kelurahan Bulurokeng dapat beroperasi seperti TPS3R lainya  ada kebutuhan dasar yang harus di penuhi. Kebutuhan ini menjadi terbagi menjadi 5 Pilar utama :

1) Fisik (SARPRAS)

  • Bangunan dan atap sudah dalam kondisi tidak layak butuh perbaikan
  • Area pemilahan  : wadah pilah terpisah untuk jenis sampah Plastik,Logam,Kertas serta Residu
  • Mesin pengolah sampah organik : Mesin pencacah sampah organic (chopper) untuk mempercepat proses pengomposan
  • Unit Pengomposan,Bak-bak komposter ,teba,biopori atau Instalasi budi daya Maggot (BSF)
  • Mesin pencacah Plastik/press plastic  : Untuk meningkatkan  nilai jual sampah Anorganik agar lebih mudah di angkut ke pabrik Daur Ulang.
  • Armada  Penjemputan, saat ini TPS3R Bina Wargai mendapat 2 unit motor Viar dari DLH kota Makassar.
  • Penampungan air, saat ini masih dipinjamkan oleh Warga

2) Kebutuhan Manajemen dan SDM

  • Kelompok Swadaya Masyarakat ( KSM/KPP)
  • Pelatihan teknis yaitu cara mengoperasikan mesin, teknik pembuatan kompos yang benar agar tidak bau dan manajemen keuangan
  • SOP (Standar Operasional Prosedur ) yang berisi aturan jam kerja, Petunjuk dan larangan di TPS3R, Pencatatan sampah masuk, sampah yang dikelola, hingga pencatatan sisa sampah residu. SOP untuk driver pengangkutan, perawatan dan pemeliharaan kendaraan, serta proses penjemputan  sampah dari rumah warga dan penyimpanan sampah di TPS3R untuk dikelola

3) Keberlanjutan Ekonomi

  • Modal kerja Awal untuk biaya bahan bakar viar
  • Sistem iuran warga Kesepakatan tariff retribusi  antara pengelola TPS3R dengan warga yang sampahnya di layani.
  • Akses ke pembeli (off-taker),Kerja sama dengan BSP,pengepul besar atau industry daur ulang sampah plastic serta pasar untuk produk kompos.

4) Persyaratan K3

  • Kebutuhan Alat Pelindung Diri : Sarung tangan, Masker, Helmet, Rompi, Sepatu Booth, Kain/sarung kepala
  • Kotak P3K
  • Alat Pemadam Api Ringan (APAR )
  • Obat-obatan seperti obat sakit kepala, minyak angin, minyak gosok
  • IPAL 

5) Kebutuhan Regulasi dan Sosialisasi

  • SK pendirian dari Lurah atau Camat sebagai legalitas pengelola
  • Kesepakatan dengan warga (sosialisasi)
  • Komitmen  warga untuk memilah sampah dari rumah
  • Sistem pembuangan Residu, Kerjasama dengan Pemerintah Kelurahan dan DLH Makassar untuk pengangkutan sisa 
  • Sampah ( Residu ).

Pembangunan TPS3R Bina Warga di Kelurahan Bulurokeng merupakan kebutuhan mendesak untuk memutus rantai permasalahan sampah perkotaan. Dengan komposisi sampah organik yang mencapai lebih dari separuh total timbulan, keberadaan TPS3R dapat mereduksi volume sampah yang dibuang ke TPA secara signifikan. Secara ekonomi, TPS3R berfungsi sebagai pusat pemulihan material yang dapat mengubah limbah menjadi aset. Secara lingkungan, fasilitas ini akan mengurangi pencemaran tanah dan udara akibat penumpukan sampah liar di lahan-lahan kosong sekitar pemukiman. 

ANALISIS TEKNIK DAN OPERASIONAL 

Di wilayah seperti kelurahan Bulurokeng tempat lokasi TPS3R analisis ini harus menitik beratkan efisiensi lahan.

  1. Analisis  Infrastruktur dan alur
  • Kapasitas desain minimal bangunan harus mencakup sistim ventilasi tinggi agar bau gas ammoniac dari sampah organic tidak terjebak.
  • Drinase dan Lindi TPS3R harus memiliki drainase khusus air lindi yang terhubungke Bak penampungan atau IPAL sederhana agar tidak mencemari sumur warga yang berada di sekitar lokasi tersebut.
  1. Analisis Operasional ( Manajemen harian)
  • Operasional harian mengatur bagaimana sampah masuk hingga keluar  menjadi produk atau Residu.
  • Tahapan operasi harian :
  • Penerimaan 
  • Pemilahan (sorting)
  • Pengolahan (processing)
  • Pengepakan
  • Penyimpanan
  • Pengeluaran
  • Operasional TPS3R Bina Warga direncanakan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan mudah dikelola oleh masyarakat: 
  • Pengolahan Organik : Menggunakan metode pengomposan atau budidaya maggot *Black Soldier Fly (BSF). Maggot sangat efektif mengurai limbah sayuran dan sisa makanan dalam waktu singkat sekaligus menghasilkan pakan ternak berprotein tinggi. 
  • Pengolahan Anorganik : Meliputi proses pemilahan manual berdasarkan jenis material (plastik, kertas, logam), pembersihan, dan pengepakan sebelum disalurkan atau dijual  

ANALISIS PERAN MASYARAKAT 

Keberhasilan TPS3R sangat bergantung pada keterlibatan aktif warga sebagai produsen sampah. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai objek layanan, tetapi juga sebagai subjek yang melakukan pemilahan awal di rumah tangga. 

Potensi peran masyarakat di Bulurokeng dapat dioptimalkan melalui penguatan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Partisipasi dalam bentuk pembayaran iuran kebersihan yang teratur dan keterlibatan dalam kegiatan gotong royong lingkungan menjadi indikator penting 

RENCANA TEKNIS PENGELOLAAN DAN PERKEMBANGAN TPS3R BINA WARGA

Adapun rencana Teknis pengelolaan dan perkembangan TPS3R Bina Warga adalah sebagai berikut :

  • Tahap Awal

Pada tahap ini fokus utama menstabilkan alur masuk dan keluar sampah agar tidak terjadi penumpukan.

  • Strategi pengembangan dan upaya peningkatan

Agar TPS3R tidak stagnan di perlukan pengembangan kapasitas secara berkelanjutan

  • Matriks target  perkembangan 3 tahun ke depan :

Fase 

Tahun 1 : Stabilisasi
Tahun 2 : Ekspansi
Tahun 3 : Mandiri (Life style )

Target Teknis

Reduksi sampah ke TPA sebesar 30%
Reduksi sampah ke TPA 50-60%
Reduksi sampah  >70 % ( zero waste )

RENCANA KELEMBAGAAN DAN PEMBIAYAAN TPS3R BINA WARGA

Rencana pembiayaan dan kelembagaan merupakan fondasi legal dan finansial agar TPS3R Bina Warga tidak berhenti beroperasi setelah bantuan fisik selesai yaitu :

  • Rencana Kelembagaan

TPS3R harus di kelolah oleh lembaga Masyarakat yang di akui secara hukum untuk memudahkan kerja sama dengan pihak ketiga. KSM  di tetapkan melalui SK Camat atau Lurah

  • Rencana Pembiayaan 

Sistem pembiayaan harus di rancang agar mandiri ( Tidak tergantung pada Anggaran pemerintah daerah selamanya ).

  • Strategi penguatan kelembagaan 

Kemitraan dengan sektor swasta, integritas bank sampah menjadikan TPS3R sebagai “Unit Induk”dan audit keuangan terbuka.

RENCANA EDUKASI DAN SOSIALISASI

Sosialisasi dan edukasi adalah kunci untuk mengubah perilaku  Masyarakat dari pola “Buang sampah” menjadi “Pilah Sampah”.

Untuk wilayah Kelurahan Bulurokeng, yang memiliki banyak Perumahan dan pemukiman padat, serta gaya hidup mengarah ke menengah ke atas, Strategi komunikasi harus dilakukan secara persuasife dan berkelanjutan .

  1. Tahapan sosialisasi
  • Memperkenalkan apa itu TPS3R kepada tokoh masyarakat, RT/RW dan Penggerak PKK di kelurahanBulurokeng, tujuannya adalah menghilangkan kekhawatiran warga  terhadap dampak pengelolaan sampah.
  • Praktek langsung cara memilah sampah di rumah (organic dan An organic ) saat armada mulai beroperasi
  • Pendampingan evaluasi rutin untuk memastikan warga konsisten dalam memilah sampahnya.
  1. Metode dan Media Edukasi
  • Door to door RT/RW atau petugas TPS3R mendatangi rumah warga  membagika stiker  “Rumah Pilah Sampah “ dan menjelaskan jadwal penjemputan.
  • Edukasi berbasis lorong, menggunakan papan bicara atau mural edukatif
  • Media digital Pemanfaatan grup whatsApp RT/RW 
  • Pelatihan  membuat kerajinan dari sampah plastik atau pembuatan pupuk cair  bagi masyarakat agar mereka melihat nilai ekonomi dari sampah.
  1. Materi Inti edukasi
  • Mengenal 3 kategori utama Sampah hijau untuk organic, sampah kuning untuk non organik, dan sampah merah/abu-abu untuk residu atau B3
  • Manfaat ekonomi, menjelaskan bagaimana pemilahan sampah bisa mengurangi iuran bulanan atau di tukar dengan sembako ( Jika terintegrasi dengan Bank Sampah }
  • Dampak Lingkungan, dengan mengedukasi warga  Bahwa TPA Tamangngapa Antang sudah hampir penuh.
  1. Strategi 

       Untuk mempercepat perubahan perilaku  di perlukan pemicu yaitu :

  • Rumah yang konsisten memilah sampah akan di berikan sticker  “pahlawan Lingkungan “
  • System poin kerjasama dengan bank sampah
  • Penolakan sampah, Petugas di perbolehkan tidak mengangkut sampah jika warga masih mencampur  sampah organic, non organic,  dan residu ( setelah diberikan teguran 3x )
  1. Monitoring dan Evaluasi

       Keberhasilan edukasi di ukur setiap bulan melalui :

  • Presentase pemilahan yaitu dengan cara menghitung berapa banyak rumah tangga yang sudah menyerahkan sampah dalam keadaan terpilah.
  • Volume Residu diukur berdasarkan  jumlah sampah yang di buang ke TPA dari TPS3R Bina Warga menurun setiap bulannya.
  • Demikian Laporan rencana Pengelolaan TPS3R Bina Warga di susun sebagai kerangka acuan operasional di lapangan. Melalui integritas antara system teknis yang efesien,manajemen kelembagaan yang solid,dan dukungan pembiayaan  yang mandiri ,di harapkan TPS3R Bina Warga ini mampu mereduksi sampah ke TPA secara signifikan
PAGE TOP