Ananto Isworo Dapat Kalpataru karena Sedekah Sampah untuk biayai pendidikan

Banyak orang ingin membantu sesama, tetapi sering merasa tidak bisa berbuat banyak karena tidak memiliki uang berlebih. Di Kampung Brajan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, cara pandang itu justru dibalik. Ketika ada warga yang kesulitan biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan hidup, sementara kemampuan untuk membantu secara finansial juga terbatas, yang diminta bukan uang. Yang diminta justru sampah.
Gagasan itu kemudian berkembang menjadi Gerakan Sedekah Sampah yang dirintis Ananto Isworo. Sampah rumah tangga yang masih memiliki nilai ekonomi dikumpulkan, dipilah, lalu dijual. Uang hasil penjualannya tidak kembali ke penyetor sebagai tabungan pribadi, tetapi digunakan untuk berbagai kebutuhan sosial masyarakat.
Gerakan ini tidak lahir dari persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sejak sekitar 2005, kondisi Kampung Brajan disebut masih menghadapi persoalan sampah yang berserakan. Kaleng dan botol bekas juga menjadi salah satu persoalan karena berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Di saat bersamaan, sebagian warga menghadapi kesulitan ekonomi, termasuk biaya sekolah dan kesehatan.
Dua persoalan yang biasanya dibicarakan secara terpisah akhirnya dipertemukan. Sampah perlu dikurangi dan dikelola, sementara kebutuhan sosial membutuhkan sumber dana. Daripada menunggu bantuan besar datang dari luar, barang bekas yang setiap hari muncul dari rumah-rumah justru mulai dilihat sebagai sumber daya yang bisa dikumpulkan bersama.
Gerakan Sedekah Sampah secara resmi mulai dijalankan di Masjid Al-Muharram, Brajan, pada 9 Juli 2013 atau 1 Ramadhan 1434 Hijriah. Salah satu pemicunya adalah banyaknya sampah kertas dan sisa kemasan makanan dari kegiatan berbuka puasa yang tidak terkelola dengan baik. Dari situ, sampah yang semula hanya menjadi sisa kegiatan mulai dipisahkan berdasarkan jenisnya dan dicari nilai ekonominya.
Cara kerjanya sebenarnya cukup sederhana. Warga memisahkan sampah yang masih bersih dan bernilai jual, seperti plastik, kertas, logam, kaca, barang elektronik, serta jenis lain yang masih bisa dimanfaatkan. Sampah tersebut kemudian dikumpulkan, dipilah lagi, dan disalurkan kepada pengepul atau pihak yang bisa mengolahnya.
Di sinilah perbedaan pentingnya dengan kebiasaan membuang sampah seperti biasa. Begitu semua jenis sampah dicampur dalam satu tempat, banyak barang yang sebenarnya masih bernilai menjadi lebih sulit dimanfaatkan. Tetapi ketika dipisahkan sejak dari rumah, sebagian sampah tidak perlu ikut berjalan sampai ke tempat pembuangan akhir.
Modelnya memang memiliki kemiripan dengan bank sampah karena sama-sama mengandalkan pemilahan dan pengumpulan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Dalam aturan pemerintah, bank sampah memang didefinisikan sebagai tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali dan memiliki nilai ekonomi. Namun pada Gerakan Sedekah Sampah, nilai dari barang yang dikumpulkan diarahkan untuk kepentingan sosial bersama.
Dari hasil penjualan sampah itulah berbagai bantuan kemudian dijalankan. Penelitian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengenai gerakan ini mencatat dana sedekah sampah digunakan untuk beasiswa pendidikan, bantuan bagi warga yang sakit, sembako bagi masyarakat kurang mampu, hingga membantu operasional Taman Pendidikan Al-Qur’an.
Artinya, satu kardus atau beberapa botol plastik memang tidak langsung menyelesaikan persoalan biaya sekolah atau kesehatan. Nilainya mungkin sangat kecil jika berdiri sendiri. Tetapi sistem ini tidak mengandalkan satu orang atau satu kali penyerahan. Kekuatannya justru berasal dari banyak rumah yang melakukan hal sama secara rutin.
Di titik ini, yang dibangun bukan sekadar kegiatan mengumpulkan barang bekas. Ada pola partisipasi yang membuat warga bisa ikut membantu meskipun kontribusinya berbeda-beda. Orang tidak harus menghitung berapa rupiah yang mampu disumbangkan. Selama masih menghasilkan sampah bernilai ekonomi, ada bagian yang bisa dialihkan menjadi manfaat sosial.
Masjid kemudian menjadi bagian penting dari sistem tersebut. Melalui konsep Eco-Masjid, fungsi rumah ibadah diperluas menjadi tempat yang juga mendorong kepedulian lingkungan dan kegiatan sosial. Pengelolaan sampah menjadi salah satu pintu masuknya, tetapi konsep yang dikembangkan di Masjid Al-Muharram kemudian juga mencakup penghijauan, pengelolaan air, hingga pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya.
Pendekatan ini membuat isu lingkungan terasa lebih dekat dengan kehidupan warga. Persoalan sampah tidak lagi hanya muncul saat lingkungan sudah kotor atau tempat pembuangan penuh. Ia dibawa ke ruang yang rutin didatangi masyarakat, lalu diterjemahkan menjadi tindakan yang sederhana. Memilah, mengumpulkan, dan memastikan barang yang masih bernilai tidak langsung dibuang.
Cara seperti ini penting karena persoalan sampah Indonesia memang tidak kecil. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional untuk 2025, dari 278 kabupaten dan kota yang telah menginput data, mencatat timbulan sampah sekitar 29,2 juta ton dalam setahun. Dari data tersebut, sekitar 67 persen tercatat belum terkelola. Angka itu memang belum mewakili seluruh daerah di Indonesia, tetapi cukup menunjukkan besarnya pekerjaan pengelolaan sampah yang masih harus dilakukan.
Karena itu, gerakan dari tingkat rumah tangga menjadi relevan. Sistem pengelolaan sampah tidak akan pernah cukup jika seluruh beban baru dimulai ketika sampah sudah sampai di truk pengangkut atau tempat pembuangan akhir. Sebagian pekerjaan justru bisa dilakukan lebih awal, saat barang masih berada di rumah dan belum bercampur dengan jenis sampah lain.
Gerakan dari Brajan kemudian tidak berhenti di satu lingkungan. Konsepnya berkembang melalui Gerakan Sedekah Sampah Indonesia atau GRADASI, yang mengkampanyekan perubahan perilaku dengan menyedekahkan sampah bernilai dan masih layak guna melalui rumah ibadah maupun tempat lain.
Skalanya menunjukkan bahwa konsep sederhana tersebut bisa direplikasi. Hingga 2024, situs resmi GRADASI mencatat sekitar 1.108,3 ton sampah telah terkumpul dengan nilai transaksi sekitar Rp 5,3 miliar. Partisipasi yang dicatat mencapai lebih dari 1,29 juta, dengan keterlibatan berbagai tempat dan kelompok, mulai dari masjid, gereja Katolik, pura, vihara, klenteng, universitas, kantor pemerintah, perusahaan, hingga ratusan komunitas masyarakat.
Angka itu penting bukan semata karena jumlah sampah atau uangnya besar. Yang lebih menarik adalah model awal yang bermula dari satu masjid ternyata bisa diterapkan di lingkungan yang berbeda. Artinya, kekuatan konsep ini bukan terletak pada bangunan atau tokoh tertentu, tetapi pada sistem yang cukup mudah dipahami dan bisa disesuaikan dengan komunitas masing-masing.
Meski begitu, sedekah sampah juga bukan gerakan yang berjalan otomatis hanya karena warga diminta membawa barang bekas. Situs resmi GRADASI menyebut pelaksanaannya membutuhkan pengurus, pengepul, tempat atau kotak pengumpulan, serta area khusus untuk menampung sampah. Artinya, di balik ide yang sederhana tetap ada pekerjaan mengatur pengumpulan, memilah barang, menjaga kebersihan, mencari jalur penjualan, dan memastikan hasilnya digunakan sesuai tujuan.
Bagian ini sering tidak terlihat ketika sebuah gerakan sosial sudah terlihat berhasil. Orang mudah tertarik pada hasil akhirnya, tetapi sistem yang membuat gerakan bertahan justru ada pada pekerjaan rutin yang tidak terlalu menarik untuk dipamerkan. Tanpa orang yang bersedia mengurus, sampah hanya berpindah dari rumah ke titik pengumpulan dan berpotensi menjadi masalah baru.
Karena itu, keberhasilan model seperti ini sebenarnya bukan sekadar kemampuan menjual sampah. Yang lebih sulit adalah membangun kebiasaan warga dan menjaga kepercayaan. Masyarakat perlu tahu jenis sampah apa yang bisa diserahkan, bagaimana kondisinya, kapan dikumpulkan, dan untuk apa hasil penjualannya digunakan.
Jika sistemnya jelas, manfaat yang muncul juga lebih luas. Rumah tangga mulai terbiasa memilah sampah. Barang yang masih bisa digunakan atau dijual tidak buru-buru masuk tempat pembuangan. Pada saat yang sama, hasil ekonominya bisa berputar kembali menjadi bantuan bagi warga.
Model ini juga menarik karena memberikan tujuan sosial yang sangat konkret pada kegiatan memilah sampah. Ajakan menjaga lingkungan kadang terasa terlalu jauh bagi sebagian orang jika hasilnya tidak langsung terlihat. Tetapi ketika beberapa kilogram barang bekas akhirnya berubah menjadi beasiswa, sembako, atau bantuan kesehatan, hubungan antara kebiasaan kecil dan manfaatnya menjadi jauh lebih mudah dipahami.
Gerakan tersebut kemudian berkembang melewati urusan lokal. Kementerian Lingkungan Hidup mencatat pada 2024 sedekah sampah juga digunakan dalam penggalangan bantuan kemanusiaan untuk Palestina. Hal ini menunjukkan bahwa nilai yang dikumpulkan dari barang bekas tidak harus berhenti pada kebutuhan satu kampung saja, tetapi dapat diarahkan pada kepentingan kemanusiaan yang lebih luas.
Perjalanan panjang sejak 2013 itu akhirnya mendapat pengakuan nasional. Pada 2026, Ananto Isworo tercatat sebagai penerima Kalpataru Adya kategori Perintis Lingkungan. Arsip resmi Kalpataru menyebut inisiatif sedekah sampah berbasis Eco-Masjid dan gerakan sedekah sampah di sekolah sebagai bagian dari kontribusi yang dinilai dalam penghargaan tersebut.
Kalpataru membuat gerakan ini semakin dikenal, tetapi bagian yang paling menarik justru terjadi jauh sebelum penghargaan itu datang. Ada waktu lebih dari satu dekade ketika pekerjaan utamanya tetap sama: membuat warga memilah sampah, mengumpulkannya, mengubahnya menjadi nilai ekonomi, lalu memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat.
Dari situ terlihat bahwa inovasi lingkungan tidak selalu harus hadir dalam bentuk mesin mahal, proyek bernilai miliaran rupiah, atau teknologi yang hanya dipahami segelintir orang. Ada inovasi yang bekerja justru karena sangat sederhana sehingga bisa dilakukan banyak orang.
Tentu sedekah sampah bukan jawaban untuk seluruh persoalan sampah Indonesia. Nilai jual barang bekas juga tidak akan menggantikan kebutuhan anggaran pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial dari negara. Gerakan masyarakat tidak seharusnya dijadikan alasan untuk memindahkan seluruh tanggung jawab besar kepada warga.
Namun justru di situlah tempat yang tepat untuk melihat gerakan ini. Bukan sebagai pengganti sistem pemerintah, melainkan sebagai bukti bahwa masyarakat juga bisa mengambil bagian dari persoalan yang berada paling dekat dengan mereka. Tidak semua solusi harus menunggu kebijakan besar selesai dibuat.
Kalau satu rumah hanya menghasilkan beberapa botol, kardus, atau barang bekas, hasilnya memang terlihat receh. Tetapi ketika dilakukan oleh puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang secara rutin, barang yang selama ini masuk tempat sampah tanpa dipikirkan bisa berubah menjadi dana yang benar-benar digunakan.
Mungkin selama ini kita terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai sampah hanya karena tidak lagi membutuhkannya. Padahal, sebelum dibuang, masih ada satu pertanyaan yang seharusnya muncul. Apakah barang ini benar-benar sudah tidak memiliki nilai, atau kita hanya belum menemukan cara untuk mengelolanya?
Gerakan Sedekah Sampah memberikan jawaban yang cukup sederhana. Ada barang yang memang harus dibuang, tetapi ada pula yang masih bisa dipilah, dijual, dan dialihkan manfaatnya. Dari sana, menjaga lingkungan dan membantu sesama tidak lagi menjadi dua urusan yang berbeda.
Dan mungkin itu bagian paling menarik dari gerakan ini. Ketika tidak punya banyak uang untuk dibagikan, yang dicari bukan alasan untuk berhenti membantu, tetapi sumber daya lain yang selama ini ada di sekitar. Ternyata, sesuatu yang setiap hari dianggap sisa pun bisa menjadi awal dari bantuan yang nyata.
—
#ceritainspirasi
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.
